Beternak Lele dan Memasarkan Melalui Restoran. Hulu Hilir ada di Tangan

Legisan Samtafsir menebar pakan di atas permukaan kolam bulat itu. Serentak ribuan Iele berebut pakan pelet Peternak di Rawadenok, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Jawa Barat, itu kini mengelola 35 kolam terbal berbentuk bulat Populasi di setiap kolam mencapai 3.000 ekor. Menurut pria 43 tahun itu beternak Iele Iebih mudah daripada beternak yang Iain. Ia mengatur penebaran benih berukuran 7-9 cm dengan inten/al 10 hari. Tujuannya agar dapat panen Iele secara teratur.
Dari budidaya Iele itu omzet Legisan mencapai Rp30-juta. Legisan memanen Iele dari kolam, mengolah menjadi beragam menu, dan menyajikanya di restoran sendiri. Menurut Legisan, pasar Iele sejatinya tak pernah Iesu. Salah satu strategi Legisan memasarkan Iele adalah dengan membuka restoran yang menyediakan beragam menu makanan berbahan Iele yang masih jarang dl masyarakat seperti Iele katsu. Iele crispy, sate Iele, mangut Iele asap, Iele saus tiram, dan abon Iele.
Berkembang
Legisan juga mengolah Iele segar menjadi filet, bakso, naget, bahkan Iele siap goreng Ayah 3 anak itu berencana terus mengembangkan bisnis di bidang Iele. ‘Targetnya pada 2024, saya bisa membuka 165 cabang waralaba dan 165 gerai. Setiap cabang memiliki 165 kolam dan mempekerjakan 165 karyawan,” ujarnya.
Wajar jika Direktorat Jenderal Perikanan dan Kelautan memilih farm Legisan menjadi Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) pada Juni 2013. P2MKP adalah lembaga pelatihan atau pemagangan di bidang kelautan dan perikanan yang dibentuk dan dikelola oleh pelaku utama maju di bidang kelautan dan perikanan baik perorangan maupun kelompok. P2MKP merupakan wujud partisipasi dan keswadayaan masyarakat ikut mengembangkan sumber daya manusia melalui pelatihan dari, oleh, dan untuk masyarakat
Kesuksesan Legisan bermula saat ia beralih ke pembesaran Iele dan menggunakan teknologi biofloK Teknologi itu membuat kotoran ikan terolah lagi lalu memadat (floc) yang disukai Iele sebagai pakan. Hal :itu terjadi atas bantuan probiotik seperti Lactobacillus sp, Plantarum sp, don Licheniformis 5p. Legisan belajar teknologi itu hingga ke Pekalongan, Jawa Tengah. “Kalau semua orang tahu teknologi itu, pasti tidak ada orang miskin di Indonesia,” ujarnya.

Melihat keunggulan teknologi bioflok, semakin memacu hasratnya untuk mengembangkan Iele. Tak tanggung-tanggung, 60-an kolam terpa! untuk pembesaran ia bangun di Iahan 1.000 m2. Uniknya kolam Legisan tak seperti kolam terpal pada umumnya yang berbentuk persegi dan beralas tanah. Legisan merancangnya berbentuk bulat dengan rangka besi sebagai penahan terpal.
“Teknologi bioflok menggunakan kolam berbentuk bulat," ujarnya. Keunggulan kolam bulat ini ialah feses ikan berkumpul di tengah. Karena lubang pembuangan di tengah. kotoran ikan gampang dibuang. Kolam berdiameter 220 cm dengan tinggi 120 cm itu ia isi 3.000-an ekor benih ukuran 7-9 cm. ‘Tinggi air 80-100 cm." ujarnya. Setelah tebar benih pada Maret 2013, ayah 3 anak itu sukses panen perdana sebanyak 3.000-an ekor dengan bobot total 300 kg.
Dengan teknologi bioflok, Legisan bisa menghemat kebutuhan pakan hingga 20%. Namun, jumlah kolam Legisan kini tersisa 35 kolam dengan kapasitas 3000-5000 ekor per kolam dan menghasilkan 300-an kg per kolam dengan budidaya selama 3 bulan. “Sebagian Iahannya saya gunakan untuk membuka restoran Iele," ujarnya.
Hambatan
Kesuksesan Master Filsafat |slam alumnus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara itu tak mudah ia raih. Jatuh bangun budidaya ikan bersungut itu sempat ia alami. Persisnya pada September 2012 saat Legisan mulai menerjuni pembenihan Iele. la mengikutkan dua keponakannya untuk belajar budidaya Iele. Selain itu ia juga membeli puluhan induk lele sebesar betis orang dewasa dan membangun 16 kolam pembenihan.
Legisan menghabiskan dana sekitar Rp100juta. “LeIe-Iele itu berhasil bertelur dan menetas," ujarnya. Ia masih menunggu 2-3 bulan lagi untuk menjual jerih payahnya itu dalam bentuk benih ukuran 7-9 cm. Namun, be|um sempat menuai hasil, puluhan ribu bibit Iele justru meregang nyawa. Legisan merugi puluhan juta rupiah. “Saya baru tahu beberapa bulan kemudian, kalau pH air di kolam saya hanya 4, padahal idealnya 6-6.5," ujar peternak Iele sejak 2012 itu.
Legisan semula bekerja di perusahaan Badan Usaha Milik Negara selama 13 tahun dengan posisi strategis. Namun, itu tak membuat Legisan Samtafsir puas. la memilih “pensiun” pada 2001 saat umurnya baru 30 tahun. “Saya ingin Iebih bermanfaat Iagi untuk masyarakat dan negara. Mumpung saya masih muda," ujar lelaki asal Kampung Manis, Kecamatan Puloraja, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, itu.
Hasilnya? Legisan sukses membangun 60 kolam Iele, membuka toko segala perlengkapan Iele, restoran Iele, dan menjadi pemateri pelatihanpelatihan budidaya Iele. Kesenangannya melahap buku-buku tentang spiritual, psikologi, dan pemikiran-pemikiran Islam membuat Legisan memilih menjadi pelatih emotional spiritual quotient (ESQ) tingkat nasional bersama Ary Ginanjar Agustiawan. Kariernya gemilang. Legisan berhasil mengisi pelatihan hingga ke luar negeri seperti di Malaysia dan Amerika. Namun, hal itu juga be|um membuatnya puas.
Legisan mengatakan, “Saya tidak ingin sukses sendiri. Apalagi melihat saudara dan keponakankeponakan saya yang masih be|um sukses,” ujar anak ke-3 dari 6 bersaudara itu. Ia pun kembali mengambil keputusan nyeleneh. Di tengah kesuksesannya menjadi pelatih muda potensial, Legisan mengajukan cuti selama 3 tahun. Ia banting setir menjadi peternak Iele di Rawadenok, Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat pada September 2012.
Pada November 2013, Legisan mendapatkan Iele unggul baru bernama mutiara dari Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Legisan mendapatkan 3 paket (1 paket = 10 betina den 5 jantan). “Saat ini baru tahap pengembangan, be|um menjualnya," ujar Legisan. (Bondan Setyawan/ Peliput: Syah Angkasa)
Comments
Post a Comment